MITIGASI BENCANA

IMG-20161113-WA0001Indonesia memiliki banyak wilayah yang rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Bencana dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi geografis, geologis, iklim maupun faktor-faktor lain seperti keragaman sosial, budaya dan politik. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 Sungai lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia.

READ  Gema Mocopat di Wisuda POLTEKKES Permata Indonesia

Kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Data bencana dari BAKORNAS PB (Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana) menyebutkan bahwa antara tahun 2003-2005 telah terjadi 1.429 kejadian bencana, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang paling sering terjadi yaitu 53,3 persen dari total kejadian bencana di Indonesia. Total bencana hidrometeorologi, yang paling sering terjadi adalah banjir (34,1 persen dari total kejadian bencana di Indonesia) diikuti oleh tanah longsor (16 persen), sedangkan frekuensi kejadian bencana geologi (gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi) hanya 6,4 persen.(Bakornas, 2006).

Provinsi DI. Yogyakarta terletak Gunung Merapi dengan luas wilayah sekitar 3.185,80 km persegi dan kepadatan mencapai 1.96 jiwa per km persegi. Lebih dari setengah luas wilayahnya merupakan lahan kering. Kawasan Utara Kabupaten Sleman khususnya lereng Merapi adalah hulu Sungai Krasak, Boyong, Bedog, dan Kuning yang umumnya merupakan sungai-sungai rawan banjir lahar dingin, sedangkan di kawasan Pegunungan Menoreh di Kabupaten Kulon Progo merupakan daerah rawan bencana tanah longsor (BNPB, 2011).

Peristiwa meletusnya Gunung Merapi pada periode Oktober-Nopember tahun 2010 menimbulkan dampak yang cukup besar bagi kehidupan warga di lereng Gunung Merapi maupun warga yang berada di wilayah bantaran sungai yang dilewati oleh aliran material akibat meletusnya gunung tersebut. Bencana yang ditimbulkan selain awan panas, material cair, pasir, juga bebatuan yang panas juga menimbulkan bencana sekunder berupa banjir lahar dingin yang terjadi ketika hujan deras di sungai yang hulunya berada di lereng Gunung Merapi. Bencana banjir lahar dingin yang membawa material-material hasil dari letusan Gunung Merapi dapat mengancam warga masyarakat yang bertempat tinggal dibantaran sungai, salah satunya adalah warga masyarakat yang tinggal di wilayah bantaran Sungai Code.

READ  Kunjuangan Lapangan ke BPOM

Sungai Code merupakan sungai yang membelah kota Yogyakarta. Salah satunya wilayah yang dilalui Sungai Code adalah Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Sungai ini sering Sungai mengalami banjir lahar, atau lebih dikenal dengan banjir lahar dingin, sebagai akibat dari hujan yang terjadi di wilayah Gunung Merapi dan mengalir melalui Sungai Code dan akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi penduduk di sepanjang bantaran sungai. Ancaman bencana lain yang mungkin terjadi selain bencana banjir adalah ancaman bencana kebakaran karena pemukiman yang sangat padat, ancaman gempa bumi dan juga ancaman angin puting beliung.

Kali ini mulok Mitigasi Bencana bagi mahasiswa Poltekkes Permata Indonesia kembali melakukan praktek kuliah lapangan di Balerante, Klaten, Jawa Tengah pada tanggal 12 dan 13 November 2016. Dengan belajar langsung dari masyarakat dan relawan yang dekat dengan situasi bencana diharapkan akan dapat membuat lulusan Poltekkes Permata Indonesia Yogyakarta lebih siap, dan survive dalam kondisi darurat.

Comment



Leave a Reply