SUAPI MAHASISWA, AGAR LEBIH BERDAYA

SUAPI MAHASISWA, AGAR LEBIH BERDAYA

Komitmen POLTEKKES Permata Indonesia untuk maju dan terus berkembang, terus diupayakan dalam berbagai aksi nyata. Salah satunya dengan melakukan pelatihan peningkatan dan penyegaran keterampilan mengajar para dosen, sebagai jawaban terhadap makin berkembangnya dinamika belajar mengajar di ruang kuliah, sekaligus tanggapan akan kebutuhan dan desakan para mahasiswa yang kian hari membutuhkan tehnik belajar mengajar (kuliah) yang menggairahkan.

Senin, 29 Oktober 2012. Bertempat di ruang rapat, seluruh dosen tetap POLTEKKES Permata Indonesia mengikuti pelatihan “Self-Management with NLP to become a Professional Lecturer”. Pelatihan yang mengedepankan pendekatan Neuron Linguistic Programming ini diperuntukkan bagi para dosen sebagai up grading terhadap didaktik metodik para dosen dalam melakukan proses transfer knowledge kepada para mahasiswa.

Menghadirkan trainer Wahyu Eko Prasetyanto dan Putu Darma P dari Aliansi Sadar Linguistik Indonesia, pelatihan ini banyak mengupas tips dan trik serta strategi bagaimana mengelola diri sendiri agar mampu tampil sebagai seorang dosen dengan performa kerja yang optimal. Untuk mencapai target tersebut, pelatihan ini dilakukan dengan pendekatan group coaching, pendampingan berbasis kelompok.

Salah satu pesan moral dalam pelatihan ini disampaikan oleh Wahyu Eko dengan sebuah cerita perandaian seperti berikut :

Ibarat cerita seorang ibu dalam negeri pewayangan, yang mampu melahirkan 100 anak sekaligus.

Jika Anda adalah seorang ibu pada jaman itu, memiliki 40 anak. Suatu pagi Anda memasak masakan untuk mereka, masing-masing mendapatkan menu dan porsi yang sama.

Ternyata 3 diantaranya lahap dan menghabiskan porsinya, 10 diantaranya hanya habis separuh porsi 20 hanya makan dua  suap, 7 diantaranya sama sekali tidak mencicipi.

Sebagai ibu, apa yang Anda lakukan agar semua anak Anda tetap memakan sajian Anda?

Sebagai ibu, tentu Anda akan mendekati 27 anak anda yang tidak menghabiskan makanan itu. Anda ajak mereka bicara dari hati ke hati. Menelisik apa penyebab mereka tak mau melahap sajian Anda, pada akhirnya Anda akan menyuapi mereka satu per satu dengan sabar dan telaten. Selain itu, dalam kondisi tertentu anak itu juga mungkin butuh variasi menu yang berbeda baik dari segi penyajian dan kompisisi bahan.

Begitulah seharusnya filosofi mendidik saat ini, bukan lagi sekedar mengajar.

===============
Yogyakarta, 3 November 2012
Oleh : Suryadin Laoddang

 

 

 

Comment



Leave a Reply